(I wrote this a few months ago. Hope you enjoy it :)
Aku berjalan di tepi trotoar. Melihat-lihat sekelilingku sambil mencoba memecahkan suatu persoalan yang sangat rumit. Yang hingga berabad-abad yang lalu gagal dirumuskan oleh para ilmuwan: semua orang di sekelilingku berpasangan. Ya. Dan aku sendirian. Aku sendiri, while they all have each other. Persoalan yang ingin kupecahkan adalah, kenapa dua orang yang sedang jatuh cinta merasa bahwa dunia menjadi milik mereka berdua? Ini persoalan yang tak bisa kumengerti. Aku tak mengerti karena aku tak pernah jatuh cinta. Aku tak pernah jatuh cinta, karena aku merasa memang belum ada laki-laki yang bisa kucintai sejauh ini -yang layak kucintai.
Sejauh ini, yang kulihat, mereka semua sama saja. Sejauh yang kutahu, memberikan hati sama saja meracuni laki-laki. Racun itu nantinya menyebar lewat pembuluh darah menuju sel-sel otak mereka, menyumbat pembuluh, menyebabkan aliran tidak berjalan, sehingga menghasilkan penyakit yang disebut BESAR KEPALA. Itu sejauh yang kutahu.
Aku memasuki sebuah cafe. Mungkin kau bertanya-tanya apa yang kulakukan sendirian. Well, teman-temanku semuanya ada urusan. Ayah dan ibuku keluar kota. Kakakku keluar bersama teman-temannya. Mungkin kau akan lebih terkejut mengetahui tepatnya jam berapa aku keluar pagi ini. Ya, pagi ini masih pukul sembilan. Di kota ini, warganya memang lebih suka keluar pagi. Aku sangat mengerti kenapa. Namun tak perlu kujelaskan lagi.
Jadi, aku melangkah ke dalam sebuah cafe yang ramai dengan pasangan-pasangan. Sengaja. Aku seolah ingin memamerkan kesendirianku pada mereka. Menunjukkan bahwa aku bangga karena aku jomblo. Dan bahwa aku berani menapaki tempat itu sendirian, tidak peduli mereka peduli atau tidak bahwa aku hanya sendirian. Intinya aku hanya ingin menunjukkan keberadaan kesendirianku. Tiba-tiba terpikir olehku, mungkin alasan aku masih sendiri sampai sekarang adalah karena aku memang sanggup sendiri, aku kuat, aku tangguh secara fisik dan mental, dan banyak laki-laki yang tidak suka itu.
Aku duduk di tengah-tengah cafe. Tidak ingin duduk di pojok, karena tidak ingin memberikan kesan menyudutkan diri. Kesan bangga dan rasa percaya diriku bisa hilang jika aku melakukan itu. Lalu…, aku melihatnya. Laki-laki itu. Tepat di seberangku. Ia sedang duduk bersama seorang perempuan. Yang menyebabkan aku tercengang, adalah fakta bahwa tiga hari yang lalu, aku juga melihat laki-laki yang sama duduk di seberangku, namun dengan perempuan yang berbeda. Entah kenapa, dan aku bersumpah, aku tidak tahu kenapa, darahku mendidih. Emosi menyelimutiku. Aku marah. Aku marah karena si perempuan tidak tahu diri. Saat ini ia sedang merasa di atas angin gara-gara perhatian dan mesranya sikap si laki-laki terhadapnya. Laki-laki itu tampan memang, dan ia menyadari ketampanannya. Namun ia tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa tiga hari yang lalu, laki-laki itu ke sini dengan perempuan yang berbeda, dan memperlakukan perempuan itu dengan cara yang sama. Bodohnya kaumku…!
Yang lebih parah, ketika perempuan itu menoleh, aku baru bisa melihat dengan jelas mukanya. Karin, anak pindahan, teman baru adikku yang belakangan sering main ke rumah dan ngobrol denganku. Karin, yang menurut bocoran dari adikku, sakit-sakitan, tapi menutup-nutupinya. Aku harus bertindak. Aku harus bertindak…!
Ketika pramusaji menanyakan pesananku, saat itulah aku beranjak dan berjalan ke mejanya Karin. Semua orang memang mengenalku sebagai perempuan yang cenderung impulsif. Aku sendiri tidak bisa menahan diri kadang-kadang, tapi itulah aku. Dan kadang aku juga suka diriku seperti ini. Reckless, some people say. Anyway, aku berjalan ke mejanya Karin. Semakin dekat laki-laki itu semakin tampan saja. Tapi aku tidak akan termakan. Dua puluh tahun hidupku aku tidak pernah termakan laki-laki seperti itu, kenapa kali ini harus berbeda?
“Karin.”
“Kak Rukia?” Karin tersenyum, kaget melihatku berdiri di hadapannya.
“Hai. Jauhi dia, Karin.”
“Eh?”
“Jauhi laki-laki ini. Dia membohongimu.”
“Maksud kakak?”
“Tiga hari yang lalu dia membawa perempuan lain ke sini, Karin! Dia telah mempermainkanmu. Jauhi dia. Ayo, kuantar pulang.” Selama berbicara aku tak sekalipun menatap langsung mata laki-laki itu, tapi dari sudut mataku, aku tahu, dia sedang menertawakanku.
Karin tertawa. Aku semakin panas.
“Karin, kau tak percaya padaku? Ayo kita pulang. Jangan buang-buang waktumu untuk laki-laki seperti dia.” Aku menarik tangannya, pelan-pelan tapi pasti. Karin tidak memberontak. Aku justru heran. Karin masih tersenyum.
“Biar aku yang mengantarnya pulang.” Laki-laki itu akhirnya bicara. Ia telah berdiri.
“Jangan sok pahlawan. Aku tahu apa yang kaulakukan. Kau itu penipu. Ayo kita pulang, Karin.” Hmmm, kuakui aku memang sensian sama laki-laki berwajah tampan.
Karin tertawa.
“Jangan berbuat ini, Nona. Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri nantinya. Biar aku yang mengantarnya pulang. Aku tinggal serumah dengannya.”
Kalimat ini menusukku. Mereka…, jangan-jangan, sudah menikah? Karin, si anak berusia lima belas tahun itu, dengan lelaki perayu ini?? Membaca keheranan di wajahku, Karin berbicara.
“Kak Rukia, tenang. Ini hanya kakakku.”
Laki-laki itu tersenyum melihat ekspresi di wajahku yang tak bisa kutahan. Sandingkan wajahku dengan tomat, dan kau akan melihat yang mana yang lebih merah.
“Perempuan yang dibawa kakakku ke sini tiga hari yang lalu itu Yuzu, adikku.”
Laki-laki itu tersenyum lagi, lalu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, Ichigo Kurosaki.”
“…Ru- Rukia.. Rukia Kuchiki.”
**
Semuanya baik-baik saja sekarang. Sebelum pulang Ichigo menawarkanku duduk semeja dengan mereka. Tidak usah kuuraikan lagi betapa malunya diriku. Itu sudah tidak penting karena semua orang juga tahu bagaimana rasanya jika berada di posisiku. Tapi Ichigo berhasil mencairkan suasana.
Dan…, aku tidak biasa menggombal, tapi kurasa, ia telah mencairkan hatiku.
Aku tadinya mengamati bagaimana sikapnya kepada adiknya (yang tadi kukira kekasihnya) dan aku sangat, sangat terharu. Dia adalah tipe laki-laki penyayang. Kulihat dia cuek, apa adanya, namun sangat penyayang kepada adik-adik perempuannya. Dari perbincangan itu juga, aku tahu bahwa Karin telah menceritakan sebagian tentangku pada kakaknya itu.
Aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku telah termakan. Seumur hidupku, inilah pertama kalinya aku tidak bisa santai kala duduk semeja dengan laki-laki. Padahal di situ ada Karin.
Kurasa inilah jawaban dari persoalan yang selama ini kupecahkan. Di sebelahku ada Karin, namun aku tidak merasakan kehadirannya. Aku hanya merasakan… Ichigo. Ichigo Kurosaki. Dan sekelilingku, buram. Hanya dia. Setiap kali aku menatap ke dalam matanya, itulah yang kurasakan. Bodoh memang. Tapi ternyata begitulah rasanya, ketika dunia menjadi milik berdua (untuk sementara, karena aku tidak tahu perasaannya, dunia masih menjadi milikku saja).
Ingin rasanya kumenampar diriku. Aku tidak ingin terluka nantinya. Namun, sebelum berpisah, Ichigo mengatakan sesuatu yang membuat jiwaku ingin melompat keluar dari ragaku.
“Nanti sore kau sibuk?”
“Tidak.” Aku menjawab sambil berusaha stay cool.
“Kalau begitu kau bisa menemaniku keliling kota? Sudah banyak yang berubah selama tiga tahun terakhir.”
“Oh. Kenapa tidak dengan Karin atau Yuzu?”
“Aku takut adik-adikku kecapekan kalau kuajak. Tapi kalau kau…, kita sama-sama tahu.” Dia memamerkan senyumnya yang paling menawan.
Aku berubah pikiran. Kupikir ia tidak sadar betapa menawannya dia. Ya, dia benar-benar tidak tahu. Ada ketulusan di matanya yang tak kutemukan pada kebanyakan laki-laki.
Anehnya, aku mengiyakan. Dan yang terjadi selanjutnya, sudah bisa ditebak. Jalan-jalan sore berujung ke sebuah makan malam di restoran seafood di pinggir pantai, dan setelah itu ia mengantarku pulang. Selama bersamanya, aku benar-benar menemukan jawaban itu. Dunia hanya milik aku dan dia. Aku tidak peduli orang-orang di sekelilingku.
Keesokan harinya, Ichigo mengajakku keluar lagi. :)
keren banget cha novelnya..
ReplyDeletetp sepertinya Karin itu mirip dg sesorang deh pemikirannya...
hehehe...
sapa ya???
bahahaha dinaaa, ternyata dirimu mengcomment wkwk aku sudah lama tidak mengunjungi website ini hahahaha
ReplyDelete