Saturday, November 21, 2009

when I see your halo (ii)

By: Icha

Aku pernah menonton sebuah video amatir tentang seekor anjing yang merawat anak-anak ayam. Itu benar-benar mengharukan. Anjing dan ayam berasal dari dua dunia yang berbeda; tidakkah si anjing menyadari itu? Video amatir tersebut bahkan menunjukkan anak-anak ayam itu menyusu dari si anjing, entah itu benar-benar menyusu atau bukan, meskipun agak sedikit nggak logis kalau seekor anak ayam menyusu. Kenyataan bahwa si anjing merawat anak-anak ayam itu aja udah nggak masuk akal. Namun, bukan masuk akal atau nggaknya yang penting di sini, tapi kurasa apa yang dilakukannya terhadap sisi sensitif orang-orang ketika melihatnya.

Lalu, aku berpikir, jika seekor anjing aja bisa merawat anak ayam, kenapa sesosok laki-laki berkuasa dari kayangan nggak bisa jatuh cinta dengan anak Adam yang lemah dari bumi? Aku tertawa memikirkan ini. Lagi-lagi menghiperbola. Dua hal itu sama sekali bukan perbandingan yang relevan. Atau bisakah diselaraskan?

“Gue pengen nangis lihat video itu,” ujarku pada temanku, Disty, tatkala menyaksikan video amatir itu bersamanya di kamarnya.

“Iyaaa, lucu bangeeett…”

‘Lucu’, meskipun aku tahu apa yang ingin dia ekspresikan, bukan penggunaan yang tepat. ‘Lucu’, ia gunakan dalam skalanya yang melenceng –maksudku, artinya bukan benar-benar ‘lucu’ seperti yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. ‘Lucu’, dalam arti yang mengkhianati jati dirinya yang sebenarnya (???).

Lalu aku berpikir lagi, mungkin jika pujaan hatiku itu bersedia melupakan origin dan kebesarannya, seperti ‘lucu’ mengkhianati jati dirnya, mungkin akan ada jalan yang disediakan Tuhan di mana ia bisa mencintaiku…?

Aku nggak mengutarakan ini ke Disty. Terlalu ribet. Cukup untuk kesenangan diriku sendiri aja.

Speaking of amusement, akhir-akhir ini aku suka sekali mendengarkan sweet love songs. Tipikal sepertiku memang suka, tapi belakangan ini, lagi gencar-gencarnya kudengar berulang-ulang; James Morrison: You Make it Real, Beyonce: Halo, Taylor Swift: Love Story, Kelly Clarkson: My Life Would Suck Without You, Boys Like Girls featuring Taylor Swift: Two is Better than One, Boys Like Girls: Thunder, Queen: Somebody to Love, and so much more.

Aku baru saja membeli sebuah iPod dari keseluruhan total uang THR yang kuperolah pasca Hari Raya Idul Fitri (yang ketika kuhitung berjumlah total 2,9 juta!!! Alhamdulillah…). Betapa bahagianya hatiku. Ke mana-mana aku selalu membawa iPod hijau itu, dan setiap kali ada kesempatan selalu mendengarkan lagu-lagunya dengan headphone-ku (nggak suka pakai earphone –nyakitin). Tiap kali aku mendengarkan lagu-lagu itu lewat iPod-ku ke mana pun kupergi itulah aku selalu mengekspresikan apa yang kurasakan dengan menyanyikan lagu-lagu itu nggak peduli teman-temanku atau orang-orang di sekitarku mendengar atau nggak. Aku sering memutar lagu-lagu James Morrison, terutama You Make it Real, berharap –hiperbolanya- ketika aku menyanyikannya ‘dia’ tiba-tiba muncul dan ‘dia’ merasakan apa yang ingin kusampaikan padanya lewat lagu itu.

“You change your mind like a girl changes clothes…” Aku sedang mendengarkan sambil menyanyikan lagunya Katy Perry.

Hari ini hari Jum’at, dan sejak pagi, aku nggak berhasil menemukan keberadaan teman-temanku yang juga tinggal di apartemen ini. Kesal karena pada upaya percobaan ketiga aku mengetuk pintu temanku, Disty, malam ini gagal, lalu ketika aku ke kamarnya Jojo pintunya juga nggak dibuka, di perjalanan kembalinya aku ke kamarku aku memutar lagu keras-keras di iPod dan nggak peduli jika orang-orang terganggu mendengarku menyanyikannya keras-keras. Habisnya aku kesal karena hari Jum’at ini, hari Jum’at di bagian sehabis kupulang kuliah, berlalu dengan kesendirian yang sia-sia.

“I should know that you’re no good for me… Coz you’re hot n you’re cold… You’re yes then you’re no… You’re in then you’re out… You’re up then you’re down… You’re wrong when it’s right… It’s black and it’s white… We fight we break up, we kiss we make up…”

Di ujung lorong, di lorong di mana kamar ‘dia’ berada, aku melihat seseorang berdiri di dekat kamarnya. Dari jauh aku bisa merasakan tatapan orang itu terpaku padaku, tapi aku cuek aja dan terus bernyanyi. Dugaanku pasti bukan dirinya karena dia nggak punya tujuan berdiri di depan kamarnya tanpa tujuan (???). Di dekat orang itu ada orang lagi sedang duduk merebahkan kaki. Oh, kedua orang ini sehabis berolahraga dan sedang menunggu si ‘dia’ membukakan pintu.

Lalu…, ajibbbb!!! Ternyata…, orang yang berdiri itu adalah dirinya!

Aku berusaha stay cool dan melanjutkan nyanyianku dengan bekal percaya diri karena aku tahu suaraku nggak jelek (ini yang kutahu lhoo) meskipun aku agak menurunkan volume suaraku. Dan ia terus melihatku! Ia melihatku hingga aku berbelok dan menghilang di corner –dari sudut mataku aku bisa melihat seulas senyum di wajahnya. Apakah itu senyum yang menertawakanku? Huffft… Itu jelas senyum menertawakan. Aku telah mempermalukan diriku sendiri, Tuhan. Aku dengan gaya santaiku, celana kotak-kotak tiga perempat dan kaos slebor putih bertuliskan ‘Family Guy’, datang-datang dengan cueknya menyanyikan lagu Katy Perry dari iPod. Memalukan…! Aku bahkan nggak suka Katy Perry! Itu satu-satunya lagu Katy Perry yang kupunya!

Anehnya, setibanya di kamar, aku jingkrak-jingkrak seperti orang kesurupan; malu bercampur senang, merasa tolol, konyol. Akhirnya ia menyadari keberadaanku! Setidaknya dengan melihatku, ia tahu kalau aku ada di dunia ini. Detik itu juga lagu Beyonce yang berjudul Halo mengudara di pikiranku menjadi soundtrack malam hari itu:

Everywhere I’m looking now I’m surrounded by your embrace…
Baby I can see your halo, you know you’re my saving brace …
You’re everything I need and more, it’s written all over your face…
Baby I can feel your halo, pray it won’t fade away…


Kesenangan di dalam diriku meledak-ledak! Oh Tuhan, aku mulai berlebihan!

Aku ingin menjadi Juliet yang di-cintamati oleh Romeo. Aku ingin seperti Rose yang di-cintamati oleh Jack. Aku ingin seperti Elizabeth Bennet yang di-cintamati oleh Mr. Darcy. Maaf, saat ini aku nggak bisa memikirkan istilah lain yang menggambarkan betapa aku bisa dicintai seseorang dengan begitu besar hingga akhir hayatku selain cintamati –that is, cinta mati. Well, seharusnya ada istilah-istilah lain jika kau ingin menjadi penulis kreatif yang menghindari menulis narasi dengan cara monoton, tapi bagaimana caranya aku mengkreasikan kata-kata yang dapat melukiskan hatiku di hari-hariku, sementara perasaanku di hari-hariku belakangan ini perasaan yang itu-itu aja dan amat sangat monoton, yaitu jatuh cinta yang amat dalam kepada seseorang yang akhir-akhir ini kulihat setiap hari namun tak sedikit pun kukenal?

Anda pasti sudah bosan dengan kegilaan ini –bukan, muak dengan benih-benih paranoia yang kedengarannya sedang dalam tahap menuju kegilaan yang ranum! (Meskipun paranoia dan kegilaan adalah dua hal yang hampir bisa dikatakan sama) Well, dengarkan ini: AKU JUGA!

(to be continued...)

when I see your halo (i)

(kisah di bawah ini terinspirasi dari kisah nyata tapi sepenuhnya fiksi..^^v)

By: Icha

Di kebanyakan kisah yang pernah kubaca, juga film-film romance yang pernah kutonton, laki-laki selalu yang pertama jatuh cinta pada si perempuan. Seringkali aku berfantasi hal yang sama terjadi padaku; bahwa seseorang akan melihatku dan jatuh cinta padaku, atau setelah mengenalku orang itu akan menyukai diriku apa adanya. Tapi selama ini hal itu nggak pernah terjadi. Yang terjadi…, biasanya selalu sebaliknya. Dan sekarang, aku benar-benar mengalaminya.

Pernahkah kau melihat seseorang dan kau langsung tahu bahwa ia adalah orang yang tepat untukmu? Like love at first sight? Dulunya aku nggak percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada. Sekarang aku harus mengakui pada diri sendiri, meskipun aku benci melakukannya, bahwa dalam kisahku, cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada, karena hal itu terjadi padaku; aku telah melihat seorang laki-laki untuk pertama kalinya, dan aku jatuh cinta padanya. Bodohnya, aku sama sekali nggak tahu dirinya siapa dan aku nggak pernah melihatnya sebelumnya.

Yang menyedihkan, kau menyadari bahwa ia takkan pernah merasakan hal yang sama padamu seperti yang kaurasakan padanya. Karena kau tahu dirinya berada dalam level yang jauh berbeda denganmu; tempatnya adalah sebuah kerajaan langit di atas sana sementara kau menginjak bumi dengan kaki telanjang, memandang ke atas penuh kekaguman, berharap suatu hari kau dapat memasuki kerajaan langit itu dan menjadi bagian darinya. Tapi itu takkan pernah terjadi karena kalian berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda –dua dunia yang takkan pernah menyatu karena memang sudah kodratnya langit dan bumi terpisah.

Dirinya bersinar ke mana pun ia melangkah. Auranya memancar dengan sempurna. Aku bisa menangkap halo dari dalam dirinya dengan jelas dan cahaya nimbus-nya menyerap masuk ke dalam diriku. Dirinya adalah sebuah corona yang memancar ke segala arah; like a circle of light. Dengan cara apa lagi aku menjelaskannya? Sejak kecil aku hampir bisa dikatakan memiliki semacam kemampuan untuk melihat aura pada diri seseorang –bukan semacam kekuatan supernatural atau sejenisnya, melainkan hanya sebuah kelebihan untuk membaca karakter orang dengan cepat, untuk bisa melihat dibangun dari hal-hal apa saja pribadi orang itu sebenarnya. Karena itu seringkali aku bisa membaca ketika seseorang berpura-pura, menutupi sesuatu, atau tidak bertingkah sewajarnya.

Terutama ketika aku melihat ke dalam mata seseorang; semua terungkap dengan sempurna. Karena seperti kata orang, mata adalah jendela hati. Biar kusempurnakan kalimat itu menurut pengalamanku sendiri: mata adalah ruang hati. Luar biasa bagaimana Tuhan menciptakan mata yang dapat berbicara dengan caranya sendiri. Bibir seseorang dapat terkunci rapat, tapi matanya mengatakan segalanya. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan kontak batin yang begitu kuat antara mata dan hati? Ikatan semacam apa yang membuat hati tak dapat berbohong melalui mata? Seolah-olah hatimu telah mempercayai dirimu untuk memegang janji, tapi matamu berkhianat. Jawabannya nggak terlalu membuatku penasaran. Ketika seseorang memaparkan penjelasan yang membuatku masuk akal, baru aku mau mendengar. Namun, selama aku mempertanyakan itu tapi tak ada satu pun yang bisa memberikan jawaban yang masuk akal, aku nggak mau tahu dulu.
Aku nggak pernah sengaja ingin melihat ke dalam sepasang mata milik laki-laki yang saat ini kucintai namun sama sekali nggak kukenal itu. Hal itu terjadi begitu saja.

Waktu itu adalah kali ketiga aku melihatnya; aku berpapasan dengannya, dan aku sama sekali nggak tahu bahwa laki-laki yang akan muncul dari anak tangga naik ke atas sementara aku menuruni tangga itu adalah dirinya. Spontan saja aku melihat ke wajah orang yang tiba-tiba muncul itu, dan dari jarak dekat, aku melihat ke dalam matanya. Dan yang kudapati dari sana, tak pernah kutemukan sebelumnya pada diri laki-laki yang lain.

God…, he’s the one! pikirku. Aku jatuh cinta semakin dalam karena yakin bahwa benar dirinya orang yang selama ini kucari-cari. But God, kenapa Engkau harus menghadirkannya dalam wujud seperti itu? Dia adalah milik kerajaan langit, bagaimana aku yang di bumi menggapainya? Aku bagai pungguk merindukan bulan, pikirku sambil tertawa penuh sarkastis melihat diriku sendiri. Semenjak insiden itu, aku tak pernah berani melihatnya lagi setiap kali kami bertemu atau berpapasan.
Oh Tuhan, sekarang statusku adalah mahasiswi! Aku sedang dalam fase peralihan kehidupan yang berat menuju kedewasaan. Kenapa bebanku harus bertambah satu lagi? Jujur, aku nggak memungkiri kenyataan bahwa salah satu tujuanku kuliah selain menggali ilmu, mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dan memperkaya pengalaman, adalah meniti jalan mencari jodoh. Konyol, tapi merujuk ke fakta, bukan aku saja yang meletakkan itu sebagai urutan terakhir dari prioritas kuliahku –kesimpulannya ketika semua orang melakukan hal itu, itu bukan lagi hal yang konyol. Dan bukan bagian di mana aku menemukan orang itu letak bebannya, melainkan bagian di mana aku tak mungkin bisa meraih orang itu.

Bagiku saat ini, itulah yang konyol. Jatuh cinta pada seseorang yang namanya saja aku nggak tahu. Satu-satunya yang kutahu, dirinya adalah mahasiswa Universitas Indonesia, sama sepertiku. Berbeda denganku yang anak teknik, dia anak FISIP. Tapi yang kutahu hanya itu, dan itu nggak cukup…, sama sekali nggak cukuplah!
Aku belum memberitahumu namaku. Namun, apalah arti sebuah nama, ketika aku belum menemukan arti itu di dalam nama orang yang bahkan namanya saja aku nggak tahu…? Tuhanku, pastilah perasaan tak terbendung ini bukanlah sesuatu yang tiada artinya. Kau pasti tengah merencanakan sesuatu yang besar untukku, kan? Karena sesuatu yang tak terbendung tidak pernah diikuti oleh keheningan. Sesuatu yang tak terbendung selalu diikuti oleh sesuatu yang besar. Baik itu air di dalam gelas yang tumpah gara-gara terlalu penuh, atau bendungan yang roboh dan airnya tumpah ruah lalu memakan korban. Tuh kan, lagi-lagi aku menghiperbola…

Tapi, jika aku mengatakan bahwa dia benar-benar mengisi kekosongan di jiwaku, aku nggak menghiperbola. Aku ingat masa-masa kelas lima SD ketika aku naksir berat sama salah seorang kakak kelas yang amat sangat ganteng. Jujur, waktu itu aku suka cuma gara-gara dia ganteng. Naksirnya parah; aku sampai nggak bisa menyingkirkan bayang-bayang wajahnya dari pikiranku seharian. Selalu ada kekosongan tatkala nggak terjadi apa-apa yang luar biasa antar aku dan dirinya hari itu.

Nah, enaknya di kisah masa SD-ku, rasa sukaku direspon. Nggak dalam artian dia mengetahui kalau aku diam-diam naksir sama dia, tapi dalam cara dia sering ‘mengganggu’. Tiap kali aku lewat di depan kelasnya, dia sering memanggil-manggil namaku. Bahkan dia pernah iseng berjalan beriringan denganku sampai aku naik tangga untuk melancarkan godaan-godaannya yang nggak penting tapi membuat hatiku bahagia. Yah…, meskipun alasan dia ‘mengganggu’ adalah karena temannya yang naksir aku dan bukan dirinya, tapi setidaknya mendapat perhatian dari dia dan pengakuan darinya bahwa aku exist di dunia ini benar-benar menyenangkan dalam cara yang tolol. Membolak-balik halaman masa lalu, aku sekarang tahu bahwa kakak kelas yang kutaksir itu kini nggak masuk ke dalam tipe ‘cowok idamanku’. Karena dia, yang namanya Fajar itu, menyadari ketampanannya dan seringkali sengaja memanfaatkan pesonanya untuk menarik perhatian ‘wanita’ sepertiku waktu itu. Sekarang, setiap kali aku melihat laki-laki seperti itu, setampan apapun dia, aku muak. Ya namanya anak kecil, waktu itu wajar kalau aku cuma suka gara-gara dia ganteng.

Perhatiannya waktu itu mengisi kekosongan di jiwaku. Namun, kali ini, sepertinya nggak bakal mungkin ada harapan untuk itu dengan the guy yang sekarang.

God…, setidaknya berikanlah hamba-Mu ini sebuah nama. Yang kuminta hanya sebuah nama!

(to be continued...)