(kisah di bawah ini terinspirasi dari kisah nyata tapi sepenuhnya fiksi..^^v)
By: Icha
Di kebanyakan kisah yang pernah kubaca, juga film-film romance yang pernah kutonton, laki-laki selalu yang pertama jatuh cinta pada si perempuan. Seringkali aku berfantasi hal yang sama terjadi padaku; bahwa seseorang akan melihatku dan jatuh cinta padaku, atau setelah mengenalku orang itu akan menyukai diriku apa adanya. Tapi selama ini hal itu nggak pernah terjadi. Yang terjadi…, biasanya selalu sebaliknya. Dan sekarang, aku benar-benar mengalaminya.
Pernahkah kau melihat seseorang dan kau langsung tahu bahwa ia adalah orang yang tepat untukmu? Like love at first sight? Dulunya aku nggak percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada. Sekarang aku harus mengakui pada diri sendiri, meskipun aku benci melakukannya, bahwa dalam kisahku, cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada, karena hal itu terjadi padaku; aku telah melihat seorang laki-laki untuk pertama kalinya, dan aku jatuh cinta padanya. Bodohnya, aku sama sekali nggak tahu dirinya siapa dan aku nggak pernah melihatnya sebelumnya.
Yang menyedihkan, kau menyadari bahwa ia takkan pernah merasakan hal yang sama padamu seperti yang kaurasakan padanya. Karena kau tahu dirinya berada dalam level yang jauh berbeda denganmu; tempatnya adalah sebuah kerajaan langit di atas sana sementara kau menginjak bumi dengan kaki telanjang, memandang ke atas penuh kekaguman, berharap suatu hari kau dapat memasuki kerajaan langit itu dan menjadi bagian darinya. Tapi itu takkan pernah terjadi karena kalian berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda –dua dunia yang takkan pernah menyatu karena memang sudah kodratnya langit dan bumi terpisah.
Dirinya bersinar ke mana pun ia melangkah. Auranya memancar dengan sempurna. Aku bisa menangkap halo dari dalam dirinya dengan jelas dan cahaya nimbus-nya menyerap masuk ke dalam diriku. Dirinya adalah sebuah corona yang memancar ke segala arah; like a circle of light. Dengan cara apa lagi aku menjelaskannya? Sejak kecil aku hampir bisa dikatakan memiliki semacam kemampuan untuk melihat aura pada diri seseorang –bukan semacam kekuatan supernatural atau sejenisnya, melainkan hanya sebuah kelebihan untuk membaca karakter orang dengan cepat, untuk bisa melihat dibangun dari hal-hal apa saja pribadi orang itu sebenarnya. Karena itu seringkali aku bisa membaca ketika seseorang berpura-pura, menutupi sesuatu, atau tidak bertingkah sewajarnya.
Terutama ketika aku melihat ke dalam mata seseorang; semua terungkap dengan sempurna. Karena seperti kata orang, mata adalah jendela hati. Biar kusempurnakan kalimat itu menurut pengalamanku sendiri: mata adalah ruang hati. Luar biasa bagaimana Tuhan menciptakan mata yang dapat berbicara dengan caranya sendiri. Bibir seseorang dapat terkunci rapat, tapi matanya mengatakan segalanya. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan kontak batin yang begitu kuat antara mata dan hati? Ikatan semacam apa yang membuat hati tak dapat berbohong melalui mata? Seolah-olah hatimu telah mempercayai dirimu untuk memegang janji, tapi matamu berkhianat. Jawabannya nggak terlalu membuatku penasaran. Ketika seseorang memaparkan penjelasan yang membuatku masuk akal, baru aku mau mendengar. Namun, selama aku mempertanyakan itu tapi tak ada satu pun yang bisa memberikan jawaban yang masuk akal, aku nggak mau tahu dulu.
Aku nggak pernah sengaja ingin melihat ke dalam sepasang mata milik laki-laki yang saat ini kucintai namun sama sekali nggak kukenal itu. Hal itu terjadi begitu saja.
Waktu itu adalah kali ketiga aku melihatnya; aku berpapasan dengannya, dan aku sama sekali nggak tahu bahwa laki-laki yang akan muncul dari anak tangga naik ke atas sementara aku menuruni tangga itu adalah dirinya. Spontan saja aku melihat ke wajah orang yang tiba-tiba muncul itu, dan dari jarak dekat, aku melihat ke dalam matanya. Dan yang kudapati dari sana, tak pernah kutemukan sebelumnya pada diri laki-laki yang lain.
God…, he’s the one! pikirku. Aku jatuh cinta semakin dalam karena yakin bahwa benar dirinya orang yang selama ini kucari-cari. But God, kenapa Engkau harus menghadirkannya dalam wujud seperti itu? Dia adalah milik kerajaan langit, bagaimana aku yang di bumi menggapainya? Aku bagai pungguk merindukan bulan, pikirku sambil tertawa penuh sarkastis melihat diriku sendiri. Semenjak insiden itu, aku tak pernah berani melihatnya lagi setiap kali kami bertemu atau berpapasan.
Oh Tuhan, sekarang statusku adalah mahasiswi! Aku sedang dalam fase peralihan kehidupan yang berat menuju kedewasaan. Kenapa bebanku harus bertambah satu lagi? Jujur, aku nggak memungkiri kenyataan bahwa salah satu tujuanku kuliah selain menggali ilmu, mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dan memperkaya pengalaman, adalah meniti jalan mencari jodoh. Konyol, tapi merujuk ke fakta, bukan aku saja yang meletakkan itu sebagai urutan terakhir dari prioritas kuliahku –kesimpulannya ketika semua orang melakukan hal itu, itu bukan lagi hal yang konyol. Dan bukan bagian di mana aku menemukan orang itu letak bebannya, melainkan bagian di mana aku tak mungkin bisa meraih orang itu.
Bagiku saat ini, itulah yang konyol. Jatuh cinta pada seseorang yang namanya saja aku nggak tahu. Satu-satunya yang kutahu, dirinya adalah mahasiswa Universitas Indonesia, sama sepertiku. Berbeda denganku yang anak teknik, dia anak FISIP. Tapi yang kutahu hanya itu, dan itu nggak cukup…, sama sekali nggak cukuplah!
Aku belum memberitahumu namaku. Namun, apalah arti sebuah nama, ketika aku belum menemukan arti itu di dalam nama orang yang bahkan namanya saja aku nggak tahu…? Tuhanku, pastilah perasaan tak terbendung ini bukanlah sesuatu yang tiada artinya. Kau pasti tengah merencanakan sesuatu yang besar untukku, kan? Karena sesuatu yang tak terbendung tidak pernah diikuti oleh keheningan. Sesuatu yang tak terbendung selalu diikuti oleh sesuatu yang besar. Baik itu air di dalam gelas yang tumpah gara-gara terlalu penuh, atau bendungan yang roboh dan airnya tumpah ruah lalu memakan korban. Tuh kan, lagi-lagi aku menghiperbola…
Tapi, jika aku mengatakan bahwa dia benar-benar mengisi kekosongan di jiwaku, aku nggak menghiperbola. Aku ingat masa-masa kelas lima SD ketika aku naksir berat sama salah seorang kakak kelas yang amat sangat ganteng. Jujur, waktu itu aku suka cuma gara-gara dia ganteng. Naksirnya parah; aku sampai nggak bisa menyingkirkan bayang-bayang wajahnya dari pikiranku seharian. Selalu ada kekosongan tatkala nggak terjadi apa-apa yang luar biasa antar aku dan dirinya hari itu.
Nah, enaknya di kisah masa SD-ku, rasa sukaku direspon. Nggak dalam artian dia mengetahui kalau aku diam-diam naksir sama dia, tapi dalam cara dia sering ‘mengganggu’. Tiap kali aku lewat di depan kelasnya, dia sering memanggil-manggil namaku. Bahkan dia pernah iseng berjalan beriringan denganku sampai aku naik tangga untuk melancarkan godaan-godaannya yang nggak penting tapi membuat hatiku bahagia. Yah…, meskipun alasan dia ‘mengganggu’ adalah karena temannya yang naksir aku dan bukan dirinya, tapi setidaknya mendapat perhatian dari dia dan pengakuan darinya bahwa aku exist di dunia ini benar-benar menyenangkan dalam cara yang tolol. Membolak-balik halaman masa lalu, aku sekarang tahu bahwa kakak kelas yang kutaksir itu kini nggak masuk ke dalam tipe ‘cowok idamanku’. Karena dia, yang namanya Fajar itu, menyadari ketampanannya dan seringkali sengaja memanfaatkan pesonanya untuk menarik perhatian ‘wanita’ sepertiku waktu itu. Sekarang, setiap kali aku melihat laki-laki seperti itu, setampan apapun dia, aku muak. Ya namanya anak kecil, waktu itu wajar kalau aku cuma suka gara-gara dia ganteng.
Perhatiannya waktu itu mengisi kekosongan di jiwaku. Namun, kali ini, sepertinya nggak bakal mungkin ada harapan untuk itu dengan the guy yang sekarang.
God…, setidaknya berikanlah hamba-Mu ini sebuah nama. Yang kuminta hanya sebuah nama!
(to be continued...)
No comments:
Post a Comment